Melodi Syukur

Melodi Syukur
Ilusi rintikan air yang menyapa

Situbondo, himmahKPI.com - Gumpalan awan menyelumuti langit, bertanda akan ada sapaan rintikan air yang mengalir dari atas sana. Namun ia tak kunjung hadir hanya menyampaikan pesannya melalui suara menggelegar yang kadang membuatku menutup telinga. Sesekali ku tengadahkan mukaku, ingin memastikan apakah benar ia akan datang.

Saat gemuruh langit saling bersahutan, terdengar suara deruman mobil tak jauh dari pendengaranku. Ku pasang mata ini mencari suara yang tak biasa aku dengar. Mungkinkah ada tamu ditetangga sebelah atau mungkin tamuku? Pertanyaan itu mengikuti arah mataku yang tetap mencari kepastian. Menginat di daerah tempat tinggalku tidak ada yang memilki mobil. Mungkin karena ekonomi yang pas-pasan.

Tiba-tiba mataku berhenti di salah satu rumah yang tidak asing lagi buatku. Mobil itu ada di depan rumah Tiara. Ya temanku di sekolah dan kebetulan satu kelas denganku. Aku kembali berfikir mungkin itu saudara Tiara yang jauh, sedang Silaturrahim. Karena Tiara pernah menceritakan kepadaku bahwa keluarga dari Ibunya yang ada di Medan adalah keluarga yang berada. Bahkan pamannya yang merupakan saudara kandung Ibunya yang memilki perusahaan sendiri. Setiap  kali lebaran Tiara sering mendapatkan banyak hadiah dari keluaranya. Mungkin nasib itu tak menghampiri keluarganya, karena Ibu Tiara lebih memilih hidup sederhana bersama Suaminya, ayah Tiara. Cinta memang buta katanya sih.

Aku terus memandangi mobil itu yang masih kinclong seperti mobil yang baru keluar dari sarangnya. Eh kok sarang? Toko kali ya!!. Saat mata ini tak lepas dari sebuah benda yang sangat mewah, maklum karena belum pernah punya, kulihat Tiara turun dari mobil bersama Ibun dan Ayahnya yang kala itu sang ayah adalah sopirnya. Hatiku mengatakan emang Tiara dan keluarga mau kemana? Kok nyewa mobil segala. Apa mungkin mau ke rumah saudaranya di Medan?. Tiba-tiba lamunanku buyar saat ada suara dan tangan yang tiba-tiba mendarat dipundakku.

“ Lia, sedang apa? Liatin apasih?”, kata itu membuyarkan sekaligus mengagetkanku.
“Astaghfirullahal’adhim, kakek!!!  Lia kaget”, kataku terperanjat sambil  memandang orang tua yang sudah keriput dihadapanku, namun  fisiknya masih kuat apalagi mimpinya yang begitu tinggi ingin menjadikanku seorang dokter. Padahal kerjanya cuma jadi buruh di sawah tapi semangatnya bagai raja.

Kakekku tercinta. Ia yang merawatku sejak kedua orangtuaku meinggal. Ayahku meninggal saat aku masih dalam rahim ibuku sedangkan ibuku sendiri meninggal waktu usiaku 4 tahun. Sejak saat itu aku bersama kakek, Ia ayah dari ayahku. Aku memilih tinggal dengannya karena ia mampu memberikanku segalanya. Bukan uang atau harta, namun dalam dirinya seakan ia merangkap berbagai profesi yang luar biasa. Kadang ia jadi guru buatku, jadi dokter buatku, jadi koki buatku, jadi apapun, yang selalu memberikan kebahagiaan untukku. Satu yang selalu menjadi khasnya dalam berbagai hal, ia humoris dan suka pantun. Pantun yang sering di ucapkan sampai akupun hafal diluar kepala, “sabun bersihnya bercampur lulur, apapun kondisinya tetaplah bersyukur”.

Namaku kalya, orang-orang biasa memanggilku lia. Saat ini aku duduk dibangku kelas IX SMP. Pendidikan yang merupakan kewajiban serta kebutuhan untuk setiap manusia menjadi penerang sendiri buatku. Apalagi semangat kakekku yang begitu luar biasa seakan menghipnotis aku bahwa aku harus dan harus sekolah lebih tinggi.

“ jangan ngelamun siang hari, nanti kesambet pak RT loh”, kata kakekku kembali membuyarkan lamunanku.
“ ih, emang pak RT syetan”, kataku
“ Kok pak RT dikatain syetan, kakek bilangin pak RT ya ”, kata kakek sambil bercanda
“ Kan kakek tadi yang bilang kalau ngelamun kesambet pak RT, biasanya orang yang ngelamun kesambet syetan. Berarti kakek nyamain pak RT dengan syetan”, kataku menjelaskan
“ katanya siapa?”, kakek bertanya
“kata aku lah, kek”, jawabku
“tu kan berarti kamu yang bilang pak RT syetan”, kata kakek sambil berbisik dan tertawa di telingaku
“ aaahhhhh, kakek”, jawabku kesal sekali
Tiba-tiba kakek memelukku seakan menghiburku atas sikapnya yang begitu membuatku kesal. Kemudian dia menyodorkan makanan buatku.
“ nih makan dulu, berusan lagi ngeliat apaan, kok kayaknya serius amat?”, tanya kakek padaku
“oh iya kek, kira kira Tiara mau kemana ya kek? Kok sampek nyewa mobil segala, bagus lagi mobilnya”, tanyaku
“ nggak mau kemana-mana, wong itu mobilnya Tiara sendiri. 4 hari yang lalu keluarga pak Tipyo membeli mobil itu”, kata kakek menjelaskan
“ Mobilnya sendiri?”, kataku meyakinkan diriku .Emang iya sih pak Tipyo ayah Tiara adalah orang sederhana tapi ia pekerja keras. Mungkin ia ingin membuktikan pada keluarga besarnya bahwa ia juga mampu membahagiakan keluarga kecilnya.

Selama 1 Minggu aku ada dirumah paman, saudara ibu. karena ada acara disana dan bersamaan dengan liburan sekolah. Paman menjemputku kerumah kakek tapi sayangnya kakek nggak bisa ikut karena sudah terikat kontrak kerja. Ciee kontrak kerja kayak orang kantoran aja. Aku baru pulang kemaren dan tadi pagi baru masuk sekolah lagi. Makanya aku tidak tau kalau Tiara membeli mobil

“oohh, pantesan kek, tadi pagi di sekolah,Dewi bilang ke aku kalau kita jangan temenan lagi sama Tiara, karena dia sekarang sombong. Apa mungkin karena Tiara Beli Mobil ya? Emang kalau orang beli mobil itu jadi sombong ya kek?”, tanyaku pada kakek.
“orang sombong itu bukan karena punya mobil tapi orang sombong itu yang memamerkan hartanya kepada orang lain dan menganggap dirinya lebih tinggi dari lain“ kakek menjelaskan
“ berarti pak Tipyo sombong dong kek, kan mobilnya diperlihatkan kepada orang lain?”, pertanyaanku kembali terlontar
“emang mobilnya mau di taruk dikantong kresek, gitu. Ya enggak la lia, selama tidak berlebihan atau tidak menganggap dirinya lebih kaya hingga dibicarakan kepada orang lain, itu bukan sombong. Apalagi pak Tipyo sering ngasik tumpangan ke orang lain tanpa mengharap apapun.”, kata kekekku
“ trus kenapa, Dewi bilang Tiara sombong ya kek”, aku kembali bertanya
“terkadang seseorang merasa iri hati kepada orang lain karena lebih diatasnya.”, kata kakek

“ Tadi pas pulang sekolah juga, aku ketemu sama ibunya Dewi bersama ibu-ibu yang lain. Terus ia bilang kalau pak Tipyo beli mobil itu kreditan dan ibunya Dewi bilang lagi, kalau pak Tipyo sudah tidak bisa beli mobil dengan bayar kontan ya gak usah beli gitu katanya. Apa mungkin keluarga Dewi iri ya kek? Kan biasanya keluarga mereka emang tidak mau kalah”, ceritaku pada kakek

“hust, jangan ngomongin orang, dosa”, kata kakek menasehatiku
“ hidup itu bagai melodi walau kadang bukan kita sendiri yang memainkannya namun terasa indah kita nikmati. begitupun dengan keberhasilan orang lain, kita harus bersyukur karena terkadang dalam rizki orang lain kitapun dapat menikmatinya.  sabun bersihnya bercampur lulur, apapun kondisinya tetaplah bersyukur ”, imbuh kakek dengan dengan pantun khasnya

“Dalam rizki orang lain kitapun dapat menikmatinya, maksudnya apa kek?”, lagi lagi pertanyaanku pada kakek
Sebelum kakek menjelaskan tiba-tiba terdengar suara Gubrakkk. Aku dan kakek terperanjat begitupun dengan orang-orang di sekelilingnya. Ternyata ada orang jatuh dari sepeda di tengah jalan. Aku dan kakek bergegas menghampiri, begitupun semua orang juga berbondong-bondong menghampiri bermaksud unuk menolong orang yang kecelakaan.

Saat aku sampai di TKP. Aku terkejut, Subhanallah, ini Dewi dan Ibunya. Aku melihat dewi sudah penuh dengan darah di kepalanya dan ibunya juga luka namun sepertinya luka ringan karena ia masih bisa berjalan menghampiri Dewi anaknya sambil menangis dan berteriak minta tolong.

Tiba-tiba pak Tipyo dengan sigap datang membawa Mobilnya dan mensegerakan Dewi dan Ibunya untuk di bawa ke Rumah sakit. Semoga Dewi dan Ibunya baik baik saja. Aamiin

Setelah sholat Isya’ berjamaah di masjid dekat rumah, aku dan kakek beranjak pulang. Aku melihat pak Angga ayah Dewi, kemudian aku bertanya perihal keadaan Dewi. Ayahnya mengatakan kalau Dewi sudah baikan dan sudah bisa di ajak komunikasi cuman harus tetap dirawat dirumah sakit. Kata dokter darah yang keluar banyak dari kepalanya akibat benturan dikepala. Namun sudah ditangani dengan baik. Untung di bawak ke rumah sakit tepat waktu kalau tidak kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kakek berusaha menguatkan pak angga dengan kalimat-kalimatnya. Kemudian kita berpamitan untuk pulang.

Diperjalanan aku terus berfikir, berguman dalam hati ,” bagaimana jika seandainya pada waktu itu pak Tipyo tidak datang dengan cepat dengan membawa mobilnya, entah bagaimana keadaan Dewi sekarang. Untung ada mobil milik pak Tipyo kalau tidak……”.
Kataku terhenti seakan menemukan sebuah jawaban yang tadi siang aku lontarkan ke kakek. Benar dalam rizki orang lain kitapun dapat menikmatinya. Kupandang kakekku, diapun balik memandangku seakan mengiyakan bahwa itu jawaban dari pertanyaanku. Seakan di sengaja kita sama-sama berucap, “Sabun mandinya bercampur lulur, apapun kondisinya tetaplah bersyukur”
Bersyukur tidak hanya untuk sesuatu yang kita dapatkan sendiri, namun riski yang Allah  SWT berikan pada orang lain kitapun juga harus mensyukurinya karena kadang dalam rizki orang lain kitapun dapat menikmatinya.

Sahabat!! Syukur adalah bentuk kepuasan kita terhadap nikmat Allah SWT. Belajarlah untuk selalu bersyukur terhadap semua nikmat Allah SWT selain nikmat yang kita sendiri dapatkan terlebih nikmat yang orang lain dapatkan.



#Seruni

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama