Situbondo, lensakomunikasi.com Ditengah viralnya pemberitaan satu keluarga yang menghuni sebuah rumah tampak akan roboh dengan dinding papan kalsiboard bekas dan kayu penyangga keropos dengan menjalani hidup keseharian dengan kondisi memprihatinkan, (13/05)
Pasalnya usai mengetahui peristiwa tersebut, Kodim 0823 Situbondo berkolaborasi dengan sejumlah pihak bergerak cepat mengunjungi rumah keluarga "Pak Tutun" Selaku Kepala Keluarga dikediamannya tepatnya di Dusun Ardani Desa Peleyan Kecamatan Kapongan, (14/05)![]() |
Berdasarkan Informasi yang berhasil dihimpun lensakomunikasi.com Bahwa terdapat sejumlah keluarga di dusun Ardani Desa Peleyan ini membutuhkan perhatian serius dan bantuan sebab selain hidup dirumah yang dinilai sangat tidak layak juga usaha untuk memenuhi kebutuhan keseharian seringkali menjumpai kesulitan termasuk keluarga pak Tutun.
Menurut Hasan Basri salahsatu warga Dusun setempat mengatakan bahwa Kepala Keluarga bernama lengkap "Tutun" (53) dan Istrinya bernama Suni (56), diketahui Tutun sebagai suami sskaligus Kepala Keluarga yang menderita sakit bertahun-tahun bahkan kabarnya terkonfirmasi gagal ginjal dan harus rutin melakukan cuci darah seminggu sekali, meski sempat sekali cuci darah tapi pada akhirnya memutuskan tidak melakukan cuci darah kembali sebab tidak ada ongkos pulang pergi ke rumah sakit.
"Sebenarnya Pak Tutun sakitnya lumayan lama, mulai dari sebagian anggota fisiknya melemah seperti tangan mengecil, penyakit asam urat hingga terkonfirmasi menderita gagal ginjal yang mengharuskan rutin cuci darah". Pungkasnya
"Saya pernah melakukan cuci darah sekali tapi setelah itu tidak melakukannya lagi karena tidak ada biaya dan kendaraan pulang pergi ke rumah sakit, sebenarnya saya tidak bisa lagi bekerja meski harus beberapa waktu pernah memaksakan diri bekerja menjadi buruh seadanya agar keluarga ini bisa makan, tapi dengan kondisi begini saya lebih sering dirumah berbaring dan duduk saja". Terang pak Tutun
Selain itu Suni sebagai istri mengaku memberanikan diri untuk bekerja sebagai buruh tani harian sebab di keluarga ini ditengarai tidak ada yang bisa bekerja kembali.
"Saya berusaha bisa bekerja agar ada beras untuk dimakan sekeluarga, kadang dibantu randi anak kedua saya, karena kondisi pak tutun sudah sakit begini, kami hidup serba kekurangan sebab saya bekerja sebagai buruh tidak bisa setiap hari karena menunggu ada orang yang mengajak". Ungkap Suni
Diketahui pasangan Pak Tutun dan Ibu Suni memiliki dua orang anak, Anak yang pertama sudah berkeluarga dan ikut suaminya ke luar desa yang informasinya juga secara ekonomi dinilai menengah kebawah.
"Satu lagi anak saya putus sekolah sejak lulus SMP karena saya tidak ada biaya, uang saku anak untuk makan, sepeda untuk bersekolah lagi, ditambah dengan kondisi keluarga yang begini, yang penting kami bisa makan sudah bersyukur meski seadanya dan terkadang pinjam hingga diberi tetangga sekitar". Tambah ibu suni.
Hal yang sama disampaikan
menurut Zainiya selaku warga dusun Ardani membenarkan kondisi keluarga pak tutun sangat memprihatinkan, termasuk pula di anggota keluarga yang menempati rumah tidak layak ini ada orang tuanya yang juga sudah Lanjut Usia (lansia), bahkan diketahui sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja lagi hanya bergantung ke Pak Tutun dan Ibu suni dengan segala kekurangan dan keterbatasan.
"Kedua orang tua pak tutun dan ibu suni sudah lansia dan salahsatunya cukup lama sakit dan benar menggantungkan hidupnya ke pak tutun dan ibu suni, sementara mereka kondisinya begini bisa dilihat sendiri". Keluhnya saat berada dirumah pak tutun sekeluarga Rabu (13/05).
"Kondisinya sangat memperihatinkan bahkan keseharian untuk sekedar bisa makan terkadang harus menunggu pemberian tetangga sekitar". Tambahnya
"Ibu Suni masih KPM PKH Eligible dan ketika kami check di aplikasi SIKS NG bahwa bansosnya sedang proses pencairan dan memang ada beberapa KPM di tahap 2 2026 yang proses pengecheckan dan tidak bersamaan pencairannya". Jelas Sulhaedi Pendamping PKH Situbondo (14/05)
Sedangkan orang tua dari Ibu Suni dan Pak Tutun yang hidup dalam satu rumah yakni orang tuanya yang sudah lansia
"Benar pak Saimo (73) dan Bu Sus (76) sebagai orang tuanya memang belum menerima bantuan apapun dan kami akan kordinasi kepada pemerintah desa setempat agar dapat diusulkan menjadi penerima bansos". Ungkap Babinsa Peleyan bersama Pendamping PKH
Mohammad Sadik selaku Ketum NGO PERKASA yang mengetahui Kondisi keluarga pak tutun langsung turun ke lokasi rumahnya dan mengecheck langsung untuk menindaklanjuti dan memastikan informasi viral yang beredar
"Hari ini kami berada di kediaman pak tutun dan ternyata benar dirumah ini ada lima anggota keluarga yakni pak tutun yang menderita sakit dan salahsatu orang tuanya yang lansia juga sudah sakit-sakitan bahkan ditengarai sudah tidak bisa melihat, sungguh memprihatinkan keberadaannya dan sangat layak dibantu". Pungkasnya
Hari ini kami berada dirumah pak tutun bersama Pihak Kodim 0823 Situbondo, kami apresiasi yang sebesar-besarnya atas gerak cepat Kodim Situbondo mengetahui keberadaan Pak Tutun sekeluarga. (14/05)
"Siang ini hadir langsung Komandan Kasdim Aan Jauhari, Danramil Kapongan, Babinsa Peleyan dan para pendamping Bantuan, kehadiran mereka setidaknya telah mampu meringankan beban kebutuhan keluarga pak tutun". Tambah Cak Sadik yang juga bagian dari satgas Premanisme Situbondo.
Lebih dari hal diatas, Danramil Kapongan menyampaikan dalam kunjungannya bahwa merasa prihatin atas kondisi keluarga Pak Tutun dan kami berusaha untuk membantu semampunya.
"Kami juga mendapatkan perintah dari Komandan Kodim 0823 Situbondo untuk mengunjungi keluarga ini, beliau belum bisa hadir secara langsung sebab ada kegiatan bersamaan dan kehadiran kami dapat meringankan beban kebutuhannya, kalau ada apa-apa dapat segera komunikasi dengan kepala dusunnya dan ke Babinsa kami di Desa peleyan ini". Pungkas Danramil Afifi
Selain dari Kodim 0823 Situbondo, Hingga berita ini dirilis belum ada pihak pemerintah manapun yang berkunjung kelokasi, kabarnya hari ini akan ada dari dinsos (15/05) yang belum terkonfirmasi dan minggu lalu diakui oleh pihak keluarga pak tutun bahwa ada anggota DPRD Situbondo yang mengusulkan rumahnya untuk dibangun program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui programnya.
Pewarta : Roz

