Viral Rumah Nyaris Roboh di Situbondo, Dinsos Gerak Cepat Sambangi Dua Keluarga Memprihatinkan

Situbondo, lensakomunikasi.com, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Situbondo bergerak cepat merespons pemberitaan viral mengenai kondisi dua keluarga di Dusun Ardani, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan. Mengetahui adanya warga yang tinggal di hunian tidak layak dan hidup dalam garis kemiskinan ekstrem, tim Dinsos langsung turun ke lokasi untuk meninjau situasi pada Jumat hari ini, Jum'at (15/05)

Dokumentasi Kunjungan TKSK Kapongan bersama tim Dinsos Kabupaten Situbondo ke kediaman Pak Tutun sekeluarga di Dusun Ardani Desa Peleyan Kecamatan Kapongan (15/05)

​Diketahui Sebelum meluncur ke lokasi, tim Dinsos terlebih dahulu mengakomodasi informasi awal dari Kortim PKH (Sulhaedi), ditempat berbeda juga memperoleh info dari Camat Kapongan yang diteruskan kepada Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kapongan. TKSK kemudian segera membangun koordinasi dengan pihak Pemerintah Desa Peleyan (Operator Desa), yakni Pak Purwanto selaku perangkat desa serta Pak Pat selaku Kepala Dusun (Kadus), untuk menanyakan kondisi riil sekaligus memastikan rute terbaik menuju lokasi. Akses menuju lokasi ternyata cukup menantang, sebab rumah kedua keluarga tersebut berada di atas bukit perbatasan desa paling ujung selatan di Dusun Ardani.

​Setelah koordinasi matang, tim yang dipimpin oleh Kabid Dayasos (Pak Erwan), Staf Rehsos (Fiki), TKSK Kapongan, serta rombongan lainnya langsung bergerak cepat menerjang rute perbukitan demi menyambangi kediaman keluarga Pak Saimo dan Pak Tutun di RT 03/RW 07 tersebut.

Bertahan di Rumah Keropos dan Sakit Menahun

​Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, terdapat dua Kepala Keluarga (KK) di lokasi terpencil tersebut yang membutuhkan perhatian serius. Kondisi tempat tinggal mereka sangat memprihatinkan berdinding papan kalsiboard bekas dengan kayu penyangga yang sudah lapuk dan nyaris roboh dihantam cuaca perbukitan.

​Beban hidup berat salah satunya dipikul oleh keluarga Pak Tutun (53). Pria yang berstatus sebagai kepala keluarga ini sudah bertahun-tahun menderita sakit parah dan harus menjalani rutinitas cuci darah seminggu sekali.

​"Saya tidak bisa lagi bekerja. Kemarin sempat memaksakan diri, tapi kondisi fisik tidak kuat. Sekarang lebih banyak berbaring dan duduk di rumah," ungkap Pak Tutun dengan nada lirih.

*Istri Jadi Tulang Punggung & Anak Putus Sekolah*
​Akibat sang suami yang tak lagi berdaya, Ibu Suni (56), istri Pak Tutun, terpaksa mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Ia menyambung hidup dengan menjadi buruh tani harian demi mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.

​Prahara ekonomi ini juga berdampak pada masa depan anak mereka. Anak sulung Pak Tutun telah berkeluarga namun hidup dalam kondisi prasejahtera di luar desa. Sementara anak bungsunya terpaksa putus sekolah setelah lulus SMP.

​"Anak saya putus sekolah karena tidak ada biaya untuk ongkos, uang saku, maupun sepeda. Dalam kondisi seperti ini, kami bisa makan sehari-hari saja sudah sangat bersyukur," tutur Ibu Suni

​Kemiskinan ini komplit karena tepat di sebelah rumah Pak Tutun, tinggal orang tua mereka yang sudah lanjut usia (lansia), yaitu Pak Saimo (73) asal dusun Aeng Celleng peleyan dan Ibu Sus (76).
​Kondisi sepasang lansia di ujung selatan desa ini tidak kalah memprihatinkan. Ibu Sus kini menyandang tuna netra dan sering sakit-sakitan. Di usia senjanya, Pak Saimo masih harus berjuang mencari rumput untuk pakan kambing demi menyambung hidup sehari-hari.

​Kunjungan serta koordinasi lintas sektor yang dilakukan hari ini diharapkan menjadi langkah awal hadirnya intervensi bantuan nyata, seperti perbaikan hunian maupun jaminan kesehatan, serta solusi jangka panjang dari pemerintah bagi kedua keluarga yang berada di pelosok perbatasan desa tersebut.

Sumber : TKSK Kapongan
Taufiq / Roz

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama